Data Pengamatan Interaksi Hewan dan Tumbuhan
Kelompok 2 :
1. Gianri Wahyu Pratama
2. Johara Alicia Arifin
3. Naura Rahma Syaakira
4. Sauza Ramadhani W. A S
A. Data Interaksi Hewan
Kapibara (Hydrochoerus hydrochaeris)
1. Capibara (Hydrochoerus hydrochaeris)
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Rodentia
Famili: Caviidae
Genus: Hydrochoerus
Spesies: Hydrochoerus hydrochaeris
Ciri Morfologi yang Diamati
· Tubuh: Besar, gemuk, dan berbentuk seperti barrel (tong). Merupakan rodentia
terbesar di dunia.
· Kulit dan Rambut: Rambut kasar dan jarang, berwarna coklat kemerahan hingga
keabu-abuan.
· Kepala: Besar dan tumpul. Mata dan telinga berukuran kecil dan terletak di bagian
atas kepala.
· Kaki: Relatif pendek. Kaki depan memiliki 4 jari, kaki belakang memiliki 3 jari,
dengan selaput renang (webbed toes) yang kecil di antara jari-jarinya.
· Gigi: Gigi seri (incisor) berwarna jingga/oranye dan tumbuh terus-menerus, khas
hewan pengerat.
Habitat
Kapibara hidup di habitat perairan tawar, seperti:
· Sabana lembap
· Hutan galeri (sepanjang sungai)
· Rawa-rawa
· Sungai dan danau yang dikelilingi vegetasi lebat
Mereka sangat bergantung pada air untuk bertahan hidup,menghindari pemangsa,
dan mengatur suhu tubuh.
Dokumentasi Foto
Terlampir pada link
Catatan Hasil Pengamatan
· Aktivitas: Kapibara teramati beraktivitas dalam kelompok kecil (sekitar 5-10
individu). Mereka banyak menghabiskan waktu untuk berendam di air pada siang hari
yang panas.
· Perilaku Makan: Kelompok tersebut merumput di tepian sungai pada sore hari,
memakan rumput dan tanaman air. Terlihat perilaku sosial seperti saling menggaruk
(allogrooming).
Manfaat dan Peranan Ekologis
· Pengendali Vegetasi: Sebagai herbivora besar, mereka membantu mengontrol
pertumbuhan vegetasi, terutama rumput dan tanaman air.
· Mangsa Penting: Kapibara merupakan sumber makanan utama bagi banyak predator
puncak seperti jaguar, puma, anaconda, dan caiman.
· Penyebar Biji: Mereka dapat membantu dalam penyebaran biji tanaman yang
mereka konsumsi melalui kotorannya.
· Indikator Kesehatan Lingkungan: Keberadaan populasi kapibara yang sehat
menunjukkan ekosistem perairan dan sekitarnya juga dalam kondisi baik.
Ciri Khas Spesies
· Rodentia Terbesar di Dunia: Ciri yang paling mencolok adalah ukuran tubuhnya
yang sangat besar untuk ordo Rodentia, dengan berat dapat mencapai lebih dari 65 kg.
· Hidup Semi-Akuatik: Sangat adaptif untuk hidup di air, dengan mata dan telinga di
atas kepala, serta kaki berselaput.
· Hewan Sosial: Hidup dalam kelompok yang terstruktur, yang biasanya dipimpin
oleh satu jantan dominan.
Jenis dan Deskripsi Umum
Kapibara adalah hewan pengerat raksasa yang jinak dan sosial. Mereka adalah
perenang yang handal dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di dekat atau di
dalam air untuk menghindari panas dan predator. Mereka adalah herbivora yang
memakan berbagai jenis tumbuhan.
Interaksi yang Teramati
•Intraspesifik (dalam spesies):
Kooperatif: Individu-individu dalam kelompok terlihat merumput bersama dan saling
menjaga. Teramati perilaku perawatan sosial (allogrooming) yang memperkuat ikatan
kelompok.
• Interspesifik (dengan spesies lain):
1.Netralisme/Komensalisme: Beberapa burung (seperti Jacana) terlihat berjalan di
dekat kapibara tanpa mengganggu, mungkin memanfaatkan serangga yang terganggu
oleh langkah kapibara.
2.Predasi: Pengamatan tidak langsung (kewaspadaan tinggi dan suara alarm)
menunjukkan adanya ancaman dari predator seperti ular besar atau kucing hutan.
2. Burung Jagal Papua
1. Nama umum & ilmiah: Jagal Papua (Cracticus cassicus.)
2. Klasifikasi / taksonomi:
Kingdom Animalia;
Filum Chordata;
Kelas Aves;
Ordo Passeriformes;
Famili Cracticidae;
Genus Cracticus.
3. Ciri morfologi: Tubuh berukuran sedang (~32–35 cm), bulu dominan hitam dan putih.
Paruh tebal dan kuat (sedikit melengkung) — karakteristik untuk mangsa dan
memangsa. Kaki kuat untuk bertengger dan menangkap mangsa.
4. Habitat: Hutan hujan tropis di Papua dan Papua Nugini, dataran rendah hingga
perbukitan; juga bisa dijumpai di area hutan sekunder, pinggir sungai, semak-semak,
atau lahan yang sedikit terganggu.
5. Catatan pengamatan / perilaku:
Di alam liar, dikenal sebagai karnivora.
Sehari-hari memakan pakan berupa pelet, cukup aktif bergerak dan berinteraksi
dengan pasangannya.
Burung ini juga terkenal karena vokalisasinya: memiliki suara kicau keras,
variatif, dan bisa meniru suara burung lain atau suara lingkungan, menjadikannya
sebagai burung “mimikri / peniru suara”.
Saat berkicau, sering mengepak sayap dan membusungkan dada, kadang tampak
seperti “berenang di udara” — karakteristik tampilan saat berkicau.
6. Manfaat & peran ekologis:
Sebagai predator, membantu mengontrol populasi serangga atau hewan kecil —
bagian dari rantai makanan dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Sebagai penyebar biji/polaat (jika memang makan buah sesekali) dan
menyumbang keanekaragaman hayati.
Menjadi bagian dari keanekaragaman fauna khas Papua — penting bagi
konservasi dan identitas biota lokal.
7. Ciri khas spesies: Kombinasi bulu hitam-putih, paruh kuat melengkung, dan
kemampuan vokalisasi khas dengan variasi suara serta kemampuan meniru suara lain.
8. Jenis & deskripsi umum: Burung pengicau/predator berkaki dan paruh kuat,
berukuran sedang, hidup di hutan tropis dan semak — termasuk anggota keluarga
Cracticidae.
9. Interaksi yang diamati:
Dengan lingkungan/habitat — hidup di hutan tropis, semak, pinggir sungai.
Dengan mangsa — berburu serangga, kadal, burung kecil, dan hewan kecil lain.
Dengan manusia — dalam beberapa kasus dijinakkan/training pemasteran suara
(meski secara umum liar), interaksi ini bisa berisiko karena sifat agresif dan
kebutuhan habitat khusus.
3. Kudanil
1. Kuda Nil (Hippopotamus amphibius)
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkat Taksonomi Nama Ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla (Ungulata berkuku genap)
Famili: Hippopotamidae
Genus: Hippopotamus
Spesies: Hippopotamus amphibius
3. Ciri Morfologi yang Diamati
· Tubuh: Sangat besar, gemuk, dan berbentuk seperti tong (barrel-shaped). Kulitnya
hampir tidak berambut.
· Kulit: Kulit berwarna abu-abu keunguan hingga coklat, dengan tekstur yang halus
tetapi sangat tebal. Mengeluarkan cairan merah kental ("keringat darah") yang
bertindak sebagai tabir surya dan antiseptik alami.
· Kepala: Besar dan lebar. Mata, telinga, dan lubang hidung terletak tinggi di atas
kepala, memungkinkannya untuk melihat, mendengar, dan bernapas sementara hampir
seluruh tubuhnya terendam air.
· Mulut dan Gigi: Mulut sangat lebar. Gigi taring (canine dan incisor) bawah sangat
besar, berbentuk seperti gading, dan terus tumbuh. Digunakan untuk pertarungan.
· Kaki: Kaki pendek dan kokoh dengan empat jari yang berselaput.
4. Habitat
Kuda Nil bergantung sepenuhnya pada air tawar dan ditemukan di:
· Sungai yang dalam dan berarus lambat
· Danau
· Rawa-rawa
· Daerah banjir (floodplains)
Mereka membutuhkan perairan yang cukup dalam untuk menenggelamkan tubuhnya
dan tepian yang berumput untuk merumput.
5. Catatan Hasil Pengamatan
· Aktivitas Siang: Sebagian besar waktu siang hari dihabiskan untuk berendam di air
untuk menghindari panas matahari. Terlihat berkelompok dengan tenang.
· Aktivitas Malam: Pada senja/malam hari, kelompok mulai naik ke daratan di
sepanjang jalur yang sama (hippo paths) untuk merumput. Dapat merumput hingga
jarak beberapa kilometer dari air.
· Perilaku Sosial: Terlihat hierarki yang kuat, dipimpin oleh seekor jantan dominan
(bull) yang menguasai suatu wilayah sungai. Jantan lain dan betina dengan
anak-anaknya membentuk kelompok terpisah.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
· Pembentuk Ekosistem Perairan: Kotoran mereka yang melimpah menyuburkan
perairan, menyediakan nutrisi bagi ikan dan organisme air lainnya.
· "Insinyur" Ekosistem: Jalur-jalur yang mereka buat (hippo paths) dan kubangan
yang mereka bentuk dapat mengubah aliran air dan bentang alam.
· Pengendali Vegetasi: Sebagai herbivora besar, mereka mengontrol pertumbuhan
rumput di daerah tepian.
· Penghubung Nutrien: Mereka memindahkan nutrisi dari darat (saat merumput) ke
perairan (melalui kotoran), menghubungkan dua ekosistem.
7. Ciri Khas Spesies
· Semi-Akuatik Ekstrem: Mamalia darat besar yang paling banyak menghabiskan
waktunya di air.
· Adaptasi Anatomi untuk Air: Posisi mata, telinga, dan hidung di atas kepala, serta
kaki berselaput, adalah adaptasi sempurna untuk kehidupan di air.
· "Keringat Darah": Mengeluarkan sekresi kulit berwarna merah yang unik untuk
melindungi kulit dari sinar matahari dan infeksi.
· Gigi Taring yang Sangat Besar: Memiliki gigi taring terbesar di antara semua
mamalia darat, yang dapat tumbuh hingga lebih dari 50 cm, digunakan sebagai senjata
utama.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Selain Kudanil biasa, hanya ada satu spesies lain dalam keluarga Hippopotamidae:
Kudanil Kerdil/Pygmy Hippopotamus
Kuda Nil adalah mamalia semi-akuatik herbivora terbesar kedua setelah gajah.
Meskipun tampak lamban, mereka sangat agresif dan dianggap sebagai salah
satu hewan paling berbahaya di Afrika. Mereka adalah perenang yang baik
dan dapat berlari cepat untuk jarak pendek di darat.
9. Interaksi yang Teramati
Intraspesifik (dalam spesies):
· Agresi dan Dominasi: Jantan dominan secara aktif mempertahankan wilayahnya dari
jantan pesaing, dengan menunjukkan mulut terbuka lebar (gaping), dorongan, dan
terkadang pertarungan berdarah dengan gigi taring.
· Perawatan Maternal: Betina terlihat sangat protektif terhadap anaknya (calf), yang
sering menunggangi punggung induknya di air.
Interspesifik (dengan spesies lain):
· Komedensalisme: Beberapa burung (seperti Oxpeckers atau Bangau) terlihat
hinggap di punggung kudanil, memakan parasit dari kulitnya.
· Predasi: Anak kuda nil rentan dimangsa oleh buaya, singa, dan hyena. Kuda Nil
dewasa tidak memiliki pemangsa alami.
· Kompetisi: Dapat bersaing dengan hewan pemakan rumput lain (seperti kerbau) di
area merumput pada malam hari.
4. Siamang
1. Siamang (Symphalangus syndactylus)
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkat Taksonomi Nama Ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primates
Famili: Hylobatidae (Keluarga Owa)
Subfamili: Hylobatinae
Genus: Symphalangus
Spesies: Symphalangus syndactylus
3. Ciri Morfologi yang Diamati
· Ukuran dan Tubuh: Berukuran besar (berat hingga 14 kg) dengan lengan yang sangat
panjang melebihi panjang tubuhnya. Tidak memiliki ekor.
· Warna Bulu: Bulu lebat berwarna hitam pekat dan mengilap.
· Kantung Suara (Gular Sac): Ciri paling khas adalah adanya kantung besar berwarna abu-abu
atau merah muda di bagian tenggorokan/janggut. Kantung ini dapat mengembang seperti
balon saat bersuara.
· Jari Kaki Berselaput (Syndactyly): Jari kaki kedua dan ketiga pada setiap kakinya menyatu
sebagian oleh selaput kulit, sesuai dengan nama spesiesnya (syndactylus).
· Wajah: Wajah relatif besar dengan alis yang menonjol dan hidung pesek. Kulit wajah
berwarna hitam.
4. Habitat
Siamang adalah spesies endemik di wilayah:
· Hutan hujan dataran rendah dan perbukitan
· Hutan pegunungan hingga ketinggian sekitar 2.400 mdpl
· Hutan primer dan sekunder yang masih memiliki kanopi pohon tinggi yang rapat
Mereka sangat bergantung pada hutan yang tidak terganggu untuk pergerakan(brachiasi) dan
sumber pakan.
5. Catatan Hasil Pengamatan
· Aktivitas Harian: Aktif di siang hari (diurnal). Teramati mulai aktif setelah matahari terbit,
dengan aktivitas pertama yaitu "nyanyian pagi" (morning call).
· Pergerakan: Bergerak dengan sangat lincah dan cepat di antara pepohonan menggunakan
metode brachiasi (berayun dari dahan ke dahan dengan menggunakan lengan). Jarang turun
ke tanah.
· Perilaku Sosial: Teramati dalam kelompok keluarga inti yang terdiri dari pasangan
monogami dan 1-2 anaknya. Interaksi antar anggota seperti saling merawat (grooming)
sangat sering terlihat.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
· Penyebar Biji Utama: Sebagai frugivor (pemakan buah) besar, mereka menelan biji utuh
dan menyebarkannya melalui kotoran di berbagai lokasi, sangat vital untuk regenerasi hutan.
· Indikator Kesehatan Hutan: Keberadaan populasi Siamang yang stabil menunjukkan kondisi
hutan yang masih baik dan utuh.
· Penjaga Keanekaragaman Hayati: Dengan membantu penyebaran biji berbagai jenis pohon,
mereka menjaga struktur dan keanekaragaman hutan.
7. Ciri Khas Spesies
· Kantung Suara yang Besar dan Dapat Mengembang: Ini adalah adaptasi untuk
menghasilkan suara panggilan yang sangat keras dan bergema, digunakan untuk
mempertahankan wilayah.
· Jari Kaki Berselaput (Syndactyly): Ciri morfologi unik yang membedakannya dari Owa
lainnya.
· Ukuran Terbesar dalam Keluarga Hylobatidae: Siamang adalah spesies Owa yang paling
besar dan berat.
· Sistem Keluarga Monogami: Hidup dalam kelompok keluarga kecil yang stabil, berbeda
dengan banyak primata lain.
8. Jenis dan Deskripsi Umam
Siamang adalah primata arboreal (hidup di pohon) yang hidup berkeluarga kecil. Mereka
adalah spesialis brachiasi dan komunikasinya yang paling vokal di antara primata Asia
Tenggara. Makanan utamanya adalah buah, daun, dan terkadang serangga.
9. Interaksi yang Teramati
1. Intraspesifik (dalam spesies):
· Kooperatif: Pasangan induk terlihat saling merawat dan bekerja sama mengasuh anak.
Anak yang lebih tua kadang membantu mengasuh adiknya.
· Teritorial: Nyanyian duet pagi hari berfungsi untuk mengomunikasikan kepemilikan
wilayah kepada kelompok Siamang lain. Terkadang terjadi konfrontasi vokal antar kelompok
yang berdekatan.
2. Interspesifik (dengan spesies lain):
· Kompetisi: Dapat bersaing dengan primata frugivor lain (seperti Monyet ekor panjang atau
Beruk) untuk sumber buah yang sama.
· Netralisme: Teramati berbagi kanopi pohon yang sama dengan spesies burung atau tupai
tanpa interaksi langsung.
5. Hamster
1. Hamster (Mesocricetus auratus)
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkat Taksonomi Nama Ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Rodentia
Famili: Cricetidae
Subfamili: Cricetinae
Genus: Mesocricetus
Spesies: Mesocricetus auratus
3. Ciri Morfologi yang Diamati
· Tubuh: Tubuh gemuk, padat, dan pendek dengan ekor yang sangat kecil (hampir tidak
terlihat).
· Bulu: Pada spesies liar, bulu berwarna coklat keemasan di punggung dengan perut berwarna
putih atau krem. Variasi peliharaan memiliki banyak warna (putih, hitam, krem) dan pola.
· Kantong Pipi (Cheek Pouches): Ciri paling khas. Kantong elastis di kedua sisi pipi yang
dapat mengembang sangat besar untuk menyimpan dan membawa makanan atau bahan sarang.
· Kaki: Kaki pendek. Kaki depan digunakan seperti tangan untuk memegang makanan.
· Gigi: Memiliki sepasang gigi seri (incisor) yang tajam dan terus tumbuh, berwarna
kuning/oranye.
4. Habitat
Habitat Asli (Liar): Daerah semi-gersang, stepa, dan perbatasan padang pasir di wilayah seperti
Suriah dan Turki.
· Lingkungan dengan fluktuasi suhu harian yang besar.
· Membuat liang bawah tanah yang dalam dan kompleks untuk menghindari panas siang hari,
dingin malam hari, dan predator.
Habitat Peliharaan/Hasil Pengamatan (Kandang):
· Kandang dengan substrat/litter yang dalam untuk menggali.
· Dilengkapi rumah/sarang, roda lari, dan mainan untuk menggerogot.
5. Catatan Hasil Pengamatan
· Aktivitas: Nokturnal (aktif malam hari). Pada malam hari teramati sangat aktif: berlari di
roda, menggali liang di substrat, dan menjelajahi kandang.
· Perilaku Makan: Mengumpulkan makanan dengan cepat, menyimpannya dalam kantong pipi,
lalu membawanya ke "gudang makanan" di sarangnya untuk dimakan/disimpan kemudian.
· Perilaku Bersih-bersih: Sering terlihat membersihkan tubuh dengan menjilati bulu dan
membersihkan kantong pipinya dengan mendorong isinya keluar menggunakan kaki depan.
· Suara: Dapat mengeluarkan suara decitan halus, terutama saat ketakutan atau terganggu.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
· Dalam Ekosistem Alami:
· Mangsa: Menjadi sumber makanan penting bagi predator seperti burung hantu, ular, dan
rubah.
· Penyebar Biji: Dapat tidak sengaja menyebarkan biji yang tersisa di dalam liangnya.
· Penggali Tanah: Aktivitas menggali liang membantu aerasi tanah.
· Manfaat bagi Manusia:
· Hewan Peliharaan: Sangat populer sebagai hewan peliharaan karena perawatannya relatif
mudah.
· Model Penelitian: Digunakan secara luas dalam penelitian biomedis, psikologi, dan
fisiologi.
7. Ciri Khas Spesies
· Kantong Pipi yang Sangat Elastis: Dapat mengembang hingga ke bahu untuk mengangkut
makanan dalam jumlah besar (bisa setara dengan separuh berat tubuhnya).
· Perilaku Penyimpan Makanan (Hoarding): Insting alami untuk mengumpulkan dan
menyimpan makanan di sarangnya.
· Solitair (Penyendiri): Hewan teritorial yang agresif terhadap hamster dewasa lain, terutama
sesama jenis. Harus dipelihara sendiri.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Hamster adalah hewan pengerat kecil yang umumnya nokturnal, berasal dari Eropa dan Asia.
Mereka dikenal sebagai pengumpul dan penyimpan makanan yang ulung berkat kantong
pipinya, serta penggali liang yang handal.
9. Interaksi yang Teramati
1. Intraspesifik (dalam spesies):
· Agresi dan Teritorial: Sangat agresif terhadap hamster dewasa lain. Pertemuan sering
menyebabkan perkelahian, gigitan, dan dapat berakibat fatal. Interaksi hanya terjadi saat kawin
dan itupun sangat singkat.
2. Interspesifik (dengan spesies lain/manusia):
· Dengan Manusia: Dapat menjalin ikatan kepercayaan jika dihandle dengan rutin dan lembut
sejak dini. Dapat mengenali pemberi makan.
· Sebagai Mangsa: Di alam, menunjukkan kewaspadaan tinggi terhadap gerakan mendadak
dan bau predator (seperti kucing atau burung).
6. Kadal Lidah Biru
1. Kadal lidah biru: ( Tiliqua scincoides )
2. Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Famili: Scincidae
Genus: Tiliqua
Spesies: Tiliqua scincoides
3. Ciri morfologi
Tubuh memanjang dan agak gemuk, sisik halus, kaki pendek, kepala besar, mata
kecil, dan lidah berwarna biru cerah. Warnanya biasanya coklat keabu-abuan dengan
pola belang di tubuh.
4. Habitat
Biasanya hidup di area bersemak, padang rumput, kebun, hutan terbuka, atau sekitar
pemukiman yang masih punya ruang hijau. Mereka suka tempat yang hangat dan agak
lembap.
5. Hasil pengamatan
Biasanya bergerak pelan, tidak agresif, dan lebih memilih bersembunyi di bawah daun
kering. Saat merasa terancam, kadal ini akan membuka mulut dan memperlihatkan
lidah birunya sebagai bentuk pertahanan visual.
6. Manfaat dan peranan ekologis
Membantu mengontrol populasi serangga, siput, dan hewan kecil lain di lingkungan.
Secara ekologi, kadal ini berperan sebagai predator kecil dan juga mangsa bagi
burung pemangsa.
7. Ciri khas spesies
Lidah biru yang sangat mencolok, tubuh besar dibanding skink lainnya, dan sifatnya
yang jinak. Kalau diganggu, dia menampilkan lidah biru sebagai tanda peringatan.
8. Jenis dan deskripsi umum
Termasuk jenis skink besar dari Australia. Ukuran dewasa sekitar 40–60 cm. Sifatnya
tenang, aktif di siang hari, dan lebih banyak berjalan di tanah dibanding memanjat.
9. Interaksi yang teramati
Umumnya tidak terlalu reaktif terhadap manusia, cenderung diam atau menjauh.
Dengan lingkungan sekitar, kadal ini sering terlihat mencari makan di antara
dedaunan atau rumput untuk mencari serangga dan siput.
7. Flamingo Eropa
1. Flamingo Eropa: ( Phoenicopterus roseus)
2. Klasifikasi taksonomi lengkap
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Phoenicopteriformes
Famili: Phoenicopteridae
Genus: Phoenicopterus
Spesies: Phoenicopterus roseus
3. Ciri morfologi yang diamati
Tubuh tinggi dengan bulu putih-merah muda, paruh besar melengkung ke bawah,
kaki sangat panjang berwarna merah muda, serta leher ramping dan panjang.
4. Habitat
Hidup di danau asin, rawa pesisir, laguna, dan perairan dangkal yang kaya alga dan
krustasea. Ditemukan di wilayah Eropa Selatan, Afrika Utara, dan sebagian Asia.
6. Catatan hasil pengamatan
Biasanya berdiri berkelompok, tapi karena ada 2, dia lebih sering berinteraksi
dengan teman nya, sering terlihat berdiri dengan satu kaki, dan mencari makan
sambil menyaring lumpur atau air dangkal. Aktivitasnya tenang dan sosial.
7. Manfaat dan peranan ekologis
Mengontrol populasi alga, zooplankton, dan invertebrata kecil di perairan dangkal.
Koloninya juga bisa menjadi indikator kesehatan lingkungan perairan.
8. Ciri khas spesies
Warna pink lembut yang muncul karena pigmen makanan (karotenoid), paruh
berbentuk filter, dan perilaku berdiri satu kaki yang sangat mencolok.
9. Jenis dan deskripsi umum
Flamingo Eropa adalah flamingo terbesar, tingginya bisa 120–145 cm. Hidup
berkoloni besar, aktif di perairan dangkal, dan termasuk burung migrasi.
10. Interaksi yang teramati
Sering melakukan aktivitas sosial seperti membersihkan bulu bersama, berjalan dan
makan dalam kelompok, serta melakukan gerakan sinkron saat berkomunikasi.
8. Burung Merak Biru Albino
1. Nama umum dan nama ilmiah
merak biru albino: Pavo cristatus (varietas albino)
2. Klasifikasi taksonomi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Galliformes
Famili: Phasianidae
Genus: Pavo
Spesies: Pavo cristatus
3. Ciri morfologi
Tubuh besar, ekor panjang seperti kipas, namun seluruh bulu berwarna putih akibat
kondisi albino. Mata biasanya merah muda atau kemerahan. Jambul kepala tetap
terlihat.
4. Habitat
Sama seperti merak biru biasa, yaitu hutan semi terbuka, padang rumput dekat
hutan, dan area dengan pohon-pohon besar. Albino biasanya ditemukan di
penangkaran karena jarang bertahan di alam liar.
6. Catatan pengamatan
Perilakunya sama seperti merak biasa, suka memamerkan ekor, berjalan pelan, dan
waspada. Individu albino lebih sensitif terhadap cahaya.
7. Manfaat dan peran ekologis
Membantu penyebaran biji, mengontrol serangga, serta menjadi bagian dari rantai
makanan.
8. Ciri khas spesies
Untuk albino: seluruh tubuh putih bersih, bulu ekor mengembang tanpa pola biru
kehijauan.
9. Jenis dan deskripsi umum
Merak besar dengan panjang bisa 1 hingga 2 meter. Jantan memiliki ekor kipas
besar, betina lebih kecil.
10. Interaksi yang diamati
Biasanya tidak agresif, sering terlihat berjalan sambil mencari makan, dan
merespons suara atau gerakan di sekitar.
9. Anoa
1. Nama umum dan nama ilmiah
Nama umum: anoa / kerbau kerdil
Nama ilmiah: dua jenis, tergantung spesies:
• Bubalus depressicornis (anoa dataran rendah)
• Bubalus quarlesi (anoa gunung)
2. Klasifikasi taksonomi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Bovidae
Genus: Bubalus
Spesies: B. depressicornis atau B. quarlesi
3. Ciri morfologi
Tubuh kecil seperti sapi mini, warna bulu coklat gelap kehitaman, memiliki dua
tanduk pendek lurus, tubuh berotot dan kompak.
4. Habitat
Hutan hujan tropis Sulawesi, rawa hutan, dan daerah lembap yang rimbun.
6. Catatan pengamatan
Anoa cenderung pemalu, suka bersembunyi, dan lebih aktif pagi atau sore. Mereka
lebih banyak berjalan sendiri dibanding berkelompok.
7. Manfaat dan peranan ekologis
Membantu menjaga struktur vegetasi melalui konsumsi tumbuhan, sekaligus
menjadi mangsa predator besar di ekosistem alaminya.
8. Ciri khas spesies
Ukuran tubuh kecil dibanding kerbau lain, tanduk lurus, serta sifat pemalu dan
penyendiri.
9. Jenis dan deskripsi umum
Mamalia herbivor asli Sulawesi. Panjang tubuh sekitar 150 cm dengan tinggi bahu
±70–100 cm.
10. Interaksi yang diamati
Jarang berkumpul, lebih sering berjalan sendiri. Biasanya menghindari manusia
atau suara keras.
10. Ikan Lele
1. Nama umum dan nama ilmiah
ikan lele Clarias batrachus (lele lokal Asia)
2. Klasifikasi taksonomi
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Siluriformes
Famili: Clariidae
Genus: Clarias
Spesies: Clarias batrachus
3. Ciri morfologi
Tubuh licin tanpa sisik, memanjang, berwarna hitam atau kecoklatan. Memiliki
kumis panjang (barbel), sirip punggung panjang, dan mulut lebar.
4. Habitat
Sawah, kolam, sungai lambat, rawa, dan perairan keruh dengan kadar oksigen
rendah.
6. Catatan pengamatan
Lele aktif di malam hari, sering berada di dasar air, dan cepat bergerak saat merasa
terancam. Bisa bertahan di air minim oksigen karena punya organ pernapasan
tambahan.
7. Manfaat dan peranan ekologis
Mengontrol populasi serangga air, larva, dan organisme kecil. Juga menjadi sumber
pangan penting bagi manusia.
8. Ciri khas spesies
Kumis panjang, tubuh licin, dan kemampuannya bertahan di kondisi air yang buruk.
9. Jenis dan deskripsi umum
Ikan air tawar omnivora, panjang bisa mencapai 30–40 cm, tubuh kuat dan adaptif.
10. Interaksi yang diamati
Sering bergerak di dasar air, bereaksi cepat terhadap makanan, dan bisa muncul ke
permukaan untuk mengambil udara.
B. Data Interaksi Tumbuhan
1. Putri Malu
1. Putri Malu (Mimosa pudica)
2. Putri malu (Mimosa pudica) merupakan tanaman herba kecil dari famili Fabaceae. Secara
taksonomi termasuk Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo
Fabales, Famili Fabaceae, Genus Mimosa, dan Spesies M. pudica.
3. Ciri morfologinya yaitu daun majemuk menyirip yang sensitif, batang tipis berduri, dan
bunga bulat berwarna merah muda.
4. Habitatnya di area terbuka seperti padang rumput, pinggir jalan, dan tanah kering dataran
rendah hingga 1300 mdpl.
6. Catatan pengamatan menunjukkan gerakan mengatup daun terjadi sangat cepat sebagai
mekanisme pertahanan.
7. Manfaatnya sebagai obat tradisional untuk antiinflamasi dan penutup tanah untuk
mencegah erosi.
8. Ciri khas spesies adalah gerakan seismonasti, yaitu menutup daun ketika disentuh.
9. Termasuk jenis tumbuhan herba rendah yang tumbuh liar.
10. Interaksi yang diamati yaitu hubungan dengan serangga penyerbuk serta reaksi manusia
terhadap gerak daunnya.
2. Bunga Telang
1. Bunga Telang (Clitoria ternatea)
2. Bunga telang (Clitoria ternatea) merupakan tanaman merambat berbunga biru dari famili
Fabaceae.
3. Diklasifikasikan dalam Kingdom Plantae, Ordo Fabales, Famili Fabaceae, Genus Clitoria,
Spesies C. ternatea.
4. Morfologinya berupa batang merambat, daun majemuk trifoliate, dan bunga biru
berbentuk terompet.
5. Habitatnya pada daerah tropis dengan tanah gembur dan sinar matahari cukup.
6. Dokumentasi foto memperlihatkan bunga biru terang dan struktur tumbuhan merambat.
7. Catatan pengamatan menunjukkan bunga sering dikunjungi lebah dan kupu-kupu.
8. Manfaatnya sebagai pewarna alami makanan, bahan herbal antioksidan, dan penutup
tanah.
9. Ciri khasnya adalah warna biru pekat dan bentuk bunga menyerupai organ kelopak.
Termasuk tanaman merambat legum tropis.
10. Interaksi yang diamati yaitu penyerbukan oleh serangga serta pemanfaatan oleh
manusia.
3. Pohon Kecapi
1. Pohon kecapi memiliki nama ilmiah Sandoricum koetjape Merr. dan merupakan pohon
buah tropis dari famili Meliaceae.
2. Secara taksonomi berada dalam Kingdom Plantae, Ordo Sapindales, Famili Meliaceae,
Genus Sandoricum, Spesies S. koetjape.
3. Morfologinya berupa pohon sedang–besar, daun majemuk tiga helai, dan buah bulat
berwarna kuning dengan daging putih keasaman.
4. Habitatnya di hutan hujan tropis dan kebun agroforestri pada tanah lembab.
5. Dokumentasi foto menunjukkan buah kuning bulat serta daun besar mengilap.
6. Pengamatan lapangan menunjukkan buah dimakan manusia dan hewan pemakan buah.
7. Manfaatnya sebagai sumber buah konsumsi, bahan kayu ringan, serta penyedia habitat
bagi fauna.
8. Ciri khasnya adalah rasa buah manis-asam dan aroma tajam.
9. Termasuk jenis pohon buah tropis berkayu keras sedang.
10. Interaksi diamati dengan satwa penyebar biji seperti kelelawar dan burung.
4. Pohon Kenari
1. Pohon Kenari (Canarium vulgare Leenh.) adalah pohon besar penghasil biji kenari yang
bernilai ekonomi tinggi.
2. Secara taksonomi termasuk Kingdom Plantae, Ordo Sapindales, Famili Burseraceae,
Genus Canarium, Spesies C. vulgare.
3. Morfologinya berupa pohon tinggi berdaun majemuk menyirip dan buah berkulit tebal
keras.
4. Habitatnya di hutan tropis dataran rendah hingga pegunungan.
5. Dokumentasi foto memperlihatkan pohon tinggi, daun besar, dan buah kenari kulit keras.
6. Catatan pengamatan menunjukkan buah menjadi pakan satwa dan sumber pangan lokal.
7. Manfaat ekologisnya berupa penyerap karbon, penyedia biji bergizi, dan penopang
ekosistem.
8. Ciri khasnya adalah biji dengan cangkang sangat keras dan minyak tinggi.
9. Termasuk jenis pohon kayu keras penghasil biji kacang.
10. Interaksi yang diamati yaitu hubungan dengan burung dan mamalia pemecah biji.
5. Cabai Rawit (Capsicum frutescens)
1. Cabai rawit (Capsicum frutescens) adalah tanaman perdu penghasil buah pedas dari famili
Solanaceae.
2. Diklasifikasikan dalam Kingdom Plantae, Ordo Solanales, Famili Solanaceae, Genus
Capsicum, dan Spesies C. frutescens.
3. Morfologinya berupa batang tegak, daun tunggal lanset, dan buah kecil lonjong berwarna
hijau lalu merah saat masak.
4. Habitatnya di lahan pertanian, pekarangan rumah, dan area tropis dengan cahaya matahari
penuh.
5. Dokumentasi foto menunjukkan tanaman perdu pendek dengan buah kecil memanjang.
6. Catatan pengamatan menunjukkan tanaman rentan serangan hama dan butuh intensitas
cahaya tinggi.
7. Manfaatnya sebagai bumbu makanan, sumber capsaicin, dan penarik burung penyebar biji.
8. Ciri khasnya adalah sensasi pedas kuat dari kandungan capsaicinoid.
9. Termasuk jenis tanaman perdu hortikultura.
10. Interaksi yang diamati yaitu penyerbukan oleh serangga dan penyebaran biji oleh burung.
6. Pisang
1. Pisang (Musa × paradisiaca)
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap:
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta (Angiospermae)
Kelas: Liliopsida (Monokotil)
Ordo: Zingiberales
Famili: Musaceae
Genus: Musa
Spesies: (Musa acuminata), (Musa balbisiana) dan (Musa × paradisiaca).
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
- Batang: Batang semu (pseudostem) yang terbentuk dari pelepah daun yang lunak dan
saling menumpuk. Batang asli (bonggol/rhizome) ada di dalam tanah.
- Daun: Daun besar, memanjang, dengan tulang daun di tengah, helai daun lebar, tepi
daun rata. Permukaan daun licin.
- Bunga: Bunga majemuk, tersusun dalam tandan (disebut jantung pisang), dilindungi
oleh seludang bunga berwarna ungu kemerahan. Bunga betina di bagian pangkal,
jantan di ujung.
- Buah: Buah berbentuk tandan (sisir), buahnya berdaging, tidak berbiji (partenokarpi)
pada kultivar budidaya.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukan:
Tanaman budidaya di daerah tropis dan subtropis basah, dari dataran rendah hingga ketinggian
±2000 mdpl. Tumbuh optimal di tanah subur, gembur, dan drainase baik.
5. Catatan Hasil Pengamatan:
Tanaman tumbuh berkelompok (rumpun). Kondisi lingkungan lembab dan cerah. Helaian daun
muda sering terlihat menggulung sebelum membuka sempurna. Jantung pisang dapat
mengeluarkan cairan nektar yang menarik serangga.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis:
- Manfaat: Buah sebagai makanan pokok dan buah meja, daun sebagai pembungkus
makanan, batang semu untuk pakan ternak.
- Peranan Ekologis: Daun lebar membantu menyerap air hujan, sistem perakaran
membantu mencegah erosi, rumpun menyediakan mikrohabitat bagi berbagai hewan
kecil.
7. Ciri Khas:
Memiliki batang semu (pseudostem) yang bukan kayu sejati, dan menghasilkan buah tandan
yang berkembang dari seluruh perbungaan betina.
8. Jenis dan Deskripsi Umum:
Tanaman herba perennial berukuran besar. Termasuk monokotil dengan pertumbuhan cepat.
Banyak jenis kultivar seperti pisang ambon, raja, kepok, dan tanduk.
9. Interaksi yang Teramati:
- Dengan manusia: Dibudidayakan secara intensif.
- Dengan serangga: Lebah dan kelelawar membantu penyerbukan pada jenis liar; kutu
daun (Pentalonia nigronervosa) dapat menularkan penyakit.
- Dengan tumbuhan lain: Sering ditanam secara tumpang sari dengan palawija.
7. Pohon Jakaranda
1. Nama Lokal: Jakaranda, Jacaranda
Nama Ilmiah: (Jacaranda mimosifolia)
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap:
- Kingdom: Plantae
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida (Dikotil)
- Ordo: Lamiales
- Famili: Bignoniaceae
- Genus: Jacaranda
- Spesies: Jacaranda mimosifolia
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
- Batang: Batang berkayu, percabangan melebar membentuk kanopi seperti payung.
- Daun: Daun majemuk menyirip ganda dua (bipinnate), berbentuk seperti daun pakis,
berwarna hijau terang.
- Bunga: Bunga berbentuk terompet, berwarna ungu kebiruan yang sangat khas,
terkumpul dalam rangkaian malai yang lebat. Hampir tidak berdaun saat berbunga
penuh.
- Buah: Buah berbentuk polong pipih, keras, dan bulat (seperti kerang). Saat tua
berwarna coklat dan berbunyi jika digoyang.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukan:
Asli Amerika Selatan (Argentina, Bolivia). Banyak ditanam sebagai pohon penghias jalan dan
taman di kota-kota beriklim hangat (tropis dan subtropis).
6. Catatan Hasil Pengamatan:
Berbunga spektakuler pada musim tertentu (biasanya awal atau akhir musim hujan). Saat
bunga berguguran, tanah di bawahnya berubah menjadi karpet ungu. Daunnya rontok sebagian
saat berbunga.
7. Manfaat dan Peranan Ekologis:
- Manfaat: Utama sebagai tanaman hias dan peneduh jalan. Kayunya kadang digunakan
untuk kerajinan.
- Ekologis: Menyediakan nektar untuk serangga penyerbuk (lebah, kupu-kupu),
menjadi peneduh dan penyejuk kawasan perkotaan.
8. Ciri Khas: Bunga ungu kebiruan yang sangat mencolok dalam malai besar dan daun
majemuk menyerupai pakis. Kanopi yang melebar simetris.
9. Jenis dan Deskripsi Umum:
Pohon peluruh (semi-deciduous) ukuran sedang. Termasuk dikotil dari keluarga Bignoniaceae
yang terkenal dengan bunga mencolok.
10. Interaksi yang Teramati:
- Dengan manusia: Sangat digemari untuk keindahan bunganya.
- Dengan serangga: Bunga menarik banyak lebah madu dan kupu-kupu untuk mencari
nektar.
- Dengan burung: Burung-burung kecil kadang bertengger di cabangnya.
8. Janda Bolong
1. Nama Lokal: Janda Bolong, Swiss Cheese Plant, Monstera Lubang
Nama Ilmiah: (Monstera adansonii) (varian dengan lubang kecil). (Monstera
deliciosa) (lubang besar dan sobekan hingga tepi).
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap:
- Kingdom: Plantae
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Liliopsida (Monokotil)
- Ordo: Alismatales
- Famili: Araceae
- Genus: Monstera
- Spesies: Monstera adansonii (populer sebagai "janda bolong") dan Monstera
deliciosa
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
- Batang: Batang merambat (vine), beruas-ruas, dan mengeluarkan akar udara
(aerial roots) pada setiap bukunya.
- Daun: Daun berbentuk hati (heart-shaped), berlubang-lubang (fenestrasi) di
bagian dalam helaian daun, tepi daun rata. Permukaan daun mengkilap.
- Bunga: Bunga majemuk tipe tongkol (spadix) dengan seludang (spathe)
berwarna krem, namun jarang muncul pada tanaman hias dalam ruangan.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukan:
Asli hutan tropis Amerika Tengah dan Selatan. Di alam, merambat pada pohon inang
di bawah naungan kanopi hutan. Kini banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias
dalam ruangan.
5. Catatan Hasil Pengamatan:
Tumbuh merambat pada media rambat atau gantung. Akar udara menempel pada
media atau menggantung. Kondisi lingkungan lembab dan cahaya tidak langsung.
Daun muda berwarna hijau cerah dan belum berlubang.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis:
- Manfaat: Utama sebagai tanaman hias dekoratif yang sangat populer.
- Ekologis: Di habitat aslinya, berperan sebagai tanaman penutup tanah/penutup batang
pohon, menyediakan mikroklimat bagi organisme kecil.
7. Ciri Khas: Daun dengan fenestrasi (lubang-lubang) alami yang menjadi adaptasi
terhadap angin dan cahaya di lantai hutan.
8. Jenis dan Deskripsi Umum: Tanaman herba merambat (vine) perennial. Termasuk
keluarga Araceae. Ada beberapa varian berdasarkan ukuran dan pola lubang daun.
9. Interaksi yang Teramati:
- Dengan manusia: Dipelihara dalam pot dengan tiang mos atau digantung.
- Dengan lingkungan: Akar udara mencari kelembaban dari udara. Tumbuh
optimal dengan kelembaban tinggi dan cahaya teduh.
9. Pohon Bidara
1. Nama Lokal: Bidara, Widara
Nama Ilmiah: Ziziphus mauritiana
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap:
- Kingdom: Plantae
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Magnoliopsida (Dikotil)
- Ordo: Rosales
- Famili: Rhamnaceae
- Genus: Ziziphus
- Spesies: Ziziphus mauritiana
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
- Batang: Batang berkayu, bercabang banyak, dan memiliki duri tajam pada
ketiak daun (sepasang, satu lurus dan satu melengkung).
- Daun: Daun tunggal, bulat telur, permukaan atas daun mengilap dan bawah
berbulu halus, tulang daun tiga utama jelas.
- Bunga: Bunga kecil, berwarna kuning kehijauan, tumbuh dalam malai di
ketiak daun, beraroma harum.
- Buah: Buah batu (drupe), bulat hingga oval, kulit halus, warna hijau saat muda
menjadi kuning/merah kecoklatan saat masak. Daging buah putih, rasanya
manis asam.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukan:
Tumbuh di daerah kering (xerofit), savana, atau daerah dengan musim kemarau
panjang. Tahan kekeringan. Menyebar dari Asia Tropis hingga Afrika.
5. Catatan Hasil Pengamatan:
Pohon tahan banting di cuaca panas. Daun tetap hijau di musim kemarau. Bunga
mengeluarkan aroma yang menarik serangga. Buahnya menjadi sumber makanan bagi
burung dan kelelawar.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis:
- Manfaat: Buah dimakan segar atau dibuat manisan (kurma cina). Daun
digunakan dalam tradisi pengobatan dan ritual. Kayu untuk bahan bakar.
- Ekologis: Tumbuhan perintis di lahan kritis, pencegah erosi, sumber makanan
penting bagi satwa liar (burung, mamalia kecil) di musim kemarau.
7. Ciri Khas: Memiliki duri ganda di ketiak daun (satu lurus dan satu melengkung) dan
buah batu kecil yang dapat dimakan.
8. Jenis dan Deskripsi Umum:
Pohon perdu atau pohon kecil yang tahan kekeringan. Termasuk dikotil. Beberapa
jenis lain seperti Ziziphus spina-christi (bidara Palestina).
9. Interaksi yang Teramati:
- Dengan satwa: Burung pemakan buah (misal burung gereja, kutilang) sering
memakan buahnya. Lebah mengunjungi bunganya.
- Dengan manusia: Dipanen buah dan daunnya. Sering ditanam sebagai pagar
hidup karena durinya.
10. Lidah Buaya
1. Nama Lokal: Lidah Buaya, Aloe Vera
Nama Ilmiah: Aloe vera (syn. Aloe barbadensis miller)
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap:
- Kingdom: Plantae
- Divisi: Magnoliophyta
- Kelas: Liliopsida (Monokotil)
- Ordo: Asparagales
- Famili: Asphodelaceae (sebelumnya Liliaceae)
- Genus: Aloe
- Spesies: Aloe vera
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati:
- Batang: Batang sangat pendek, tersembunyi di tengah roset daun.
- Daun: Daun tebal, berdaging (sukulen), berbentuk pedang/memanjang dengan
ujung runcing, tepi daun bergerigi duri lunak, permukaan licin, berwarna hijau
keabuan. Mengandung gel bening di dalamnya.
- Bunga: Bunga berbentuk tubular (seperti terompet kecil) berwarna kuning atau
jingga, tersusun pada tangkai bunga (inflorescence) yang panjang menjulang
dari tengah roset.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukan:
Asli Jazirah Arab. Tumbuh optimal di daerah kering dan berpasir dengan sinar
matahari penuh. Kini dibudidayakan luas di pot dan kebun sebagai tanaman obat dan
hias.
5. Catatan Hasil Pengamatan:
Tumbuh berkelompok membentuk rumpun. Sangat tahan panas dan minim air. Gel di
dalam daun terasa dingin dan lengket. Tangkai bunga muncul tidak setiap saat.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis:
- Manfaat: Gel daun digunakan untuk perawatan kulit (luka bakar, jerawat,
pelembab), produk kecantikan, dan minuman kesehatan.
- Ekologis: Sebagai sukulen, ia menyimpan air dan menjadi sumber cadangan
air di ekosistem kering. Bunganya menarik penyerbuk seperti lebah dan
burung kolibri.
7. Ciri Khas: Daun sukulen tebal berisi gel bening yang kaya manfaat, dan bentuk
pertumbuhan roset.
8. Jenis dan Deskripsi Umum:
Tanaman herba sukulen perennial. Termasuk monokotil. Ada ratusan spesies Aloe,
tetapi Aloe vera adalah yang paling dikenal secara komersial.
9. Interaksi yang Teramati:
- Dengan manusia: Dipanen gelnya dengan memotong daun.
- Dengan serangga: Lebah dan kupu-kupu mengunjungi bunganya untuk nektar.
- Dengan lingkungan: Menyimpan air di daunnya sebagai adaptasi terhadap
kekeringan.